Hari Jadi Kabupaten Temanggung diperingati setiap tanggal 10 November, didasarkan pada peristiwa penting sejarah yang dikenal sebagai momentum “Boyong Menoreh”. Tanggal ini dipilih berdasarkan kajian mendalam dari para sejarawan dan budayawan yang kemudian disahkan melalui peraturan daerah.
Berikut adalah narasi yang lebih panjang mengenai sejarah hari jadi Temanggung:
Latar Belakang Sejarah

Sejarah Temanggung memiliki akar yang panjang, bahkan pernah menjadi bagian penting dari peradaban Kerajaan Mataram Kuno atau Mataram Kedu Dharma pada masa pemerintahan Ratu Sanjaya (sekitar tahun 732 Masehi), dengan pusat pemerintahan di daerah Parakan. Namun, penetapan hari jadi yang digunakan saat ini merujuk pada periode yang lebih baru, yaitu era Kolonial Belanda, di mana struktur administrasi pemerintahan mulai ditata secara modern.
Peristiwa “Boyong Menoreh”

Titik tolak utama hari jadi Temanggung adalah peristiwa monumental “Boyong Menoreh” atau perpindahan ibu kota kabupaten. Pada awalnya, pusat pemerintahan berada di Parakan. Namun, pada masa pemerintahan Kolonial Belanda, muncul kebutuhan untuk memindahkan pusat administrasi ke lokasi yang dianggap lebih strategis, baik dari segi keamanan maupun tata kelola wilayah.
Setelah melalui berbagai pertimbangan dan perencanaan, pusat pemerintahan secara resmi dipindahkan dari Parakan ke lokasi yang sekarang dikenal sebagai Kota Temanggung. Peristiwa bersejarah perpindahan ini terjadi pada tanggal 10 November 1834.
Penetapan Tanggal Resmi

Tanggal 10 November 1834 ini ditetapkan sebagai hari jadi setelah dilakukannya seminar dan penelitian mendalam oleh tim ahli, sejarawan, dan tokoh masyarakat Temanggung pada tahun 1985. Hasil kajian tersebut menyimpulkan bahwa momentum perpindahan ibu kota ini merupakan tonggak awal berdirinya Temanggung sebagai sebuah entitas pemerintahan kabupaten yang mandiri dan terorganisir, terpisah dari keresidenan Kedu pada saat itu.
Makna Peringatan

Setiap tahun, peringatan Hari Jadi Temanggung dirayakan secara meriah, seringkali ditandai dengan upacara adat dan Kirab Boyong Menoreh. Kirab ini merekonstruksi kembali perjalanan perpindahan pusat pemerintahan, lengkap dengan arak-arakan budaya, untuk mengenang dan menghargai sejarah perjuangan para pendahulu.

Hari jadi ini bukan sekadar perayaan formal, melainkan juga momentum refleksi bagi masyarakat Temanggung untuk mengenang warisan sejarah, memperkuat rasa persatuan, dan memompa semangat untuk melanjutkan pembangunan daerah di masa mendatang.
