Di tengah malam yang mencekam, angin topan menerjang Desa Tanjungsari, Kecamatan Tlogomulyo, Kabupaten Temanggung [4]. Suara gemuruh dan derak dahan pohon yang patah menciptakan ketakutan di hati warga. Pagi hari menyisakan pemandangan pilu, terutama di Dusun Punduh, Dusun Tanggung, dan Dusun Tegalan. Sekitar 10 rumah warga mengalami kerusakan parah, sebagian besar atapnya hancur diterbangkan angin.

Di tengah duka, sinar harapan datang dari sinergitas tiga tingkatan struktural lembaga amil zakat, infak, dan sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU). Tanggap darurat dimulai dari tingkat Ranting, yang paling dekat dengan masyarakat. Relawan LAZISNU Ranting Desa Tanjungsari segera mendata kerusakan dan mengidentifikasi kebutuhan mendesak para korban. Data ini kemudian diteruskan ke tingkat Majelis Wakil Cabang (MWC) Tlogomulyo.
Mendapat laporan, LAZISNU MWC Tlogomulyo langsung berkoordinasi dengan LAZISNU Pengurus Cabang (PC) Temanggung [1]. Dengan gerak cepat, tim gabungan dari PC, MWC, dan Ranting segera dibentuk. Sinergitas ini memastikan respons yang efektif dan efisien, menggabungkan kekuatan jaringan di tingkat bawah dengan kapasitas logistik dan pendanaan di tingkat atas.

Tim gabungan ini membawa berbagai jenis bantuan dalam program Tashorruf Siaga Bencana. Bantuan yang disalurkan mencakup kebutuhan primer, seperti bahan makanan dan selimut, serta bahan material untuk perbaikan rumah. Bantuan pertama ditujukan untuk perbaikan darurat atap-atap yang rusak agar para korban terlindung dari hujan.
Di Dusun Punduh, tim PC, MWC, dan Ranting bersama-sama menyerahkan bantuan bahan bangunan dan logistik kepada keluarga-keluarga yang paling terdampak. Bantuan serupa juga disalurkan di Dusun Tanggung dan Dusun Tegalan, yang juga mengalami kerusakan parah [4]. Proses penyerahan bantuan dilakukan dengan pendekatan yang humanis dan penuh empati, menenangkan hati para korban yang masih syok.
Kehadiran tim gabungan LAZISNU ini tidak hanya membawa bantuan materi, tetapi juga semangat gotong royong [3]. Warga setempat, dibantu relawan, bahu-membahu membersihkan puing dan mulai memperbaiki atap-atap yang rusak [4]. Bantuan dari LAZISNU, yang merupakan perwujudan dari zakat, infak, dan sedekah masyarakat, menjadi penopang kuat bagi pemulihan para korban.

Sinergitas antara LAZISNU PC, MWC, dan Ranting ini membuktikan bahwa dengan kerja sama yang solid dan respons yang cepat, dampak bencana dapat diminimalisir dan harapan dapat kembali dibangun. Kisah ini menjadi cerminan nyata dari semangat kemanusiaan dan solidaritas yang diusung oleh Nahdlatul Ulama, memastikan bahwa tidak ada warga yang merasa sendirian dalam menghadapi musibah .
